Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan sengaja tidak menunjukkan ijazah S1 sejak awal. Menurutnya jika ijazahnya ditunjukkan sejak awal, maka tidak akan menyelesaikan masalah.
Hal tersebut diungkapkan Jokowi saat menjawab pengacara terdakwa Roy Suryo dalam sidang dugaan fitnah ijazah palsu di PN Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026). Pengacara Roy menanyakan mengapa Jokowi memilih menawarkan restorative justice ketimbang langsung menunjukkan ijazahnya.
"Pertanyaan saya adalah, Saudara Saksi, mengapa tidak Saudara tunjukkan saja? Mengapa Saudara memilih untuk menawarkan restorative justice? Mengapa Saudara memilih untuk supaya minta maaf? Mengapa tidak Saudara tunjukkan saja? Selesai kan urusannya?" tanya pengacara.
"Sebentar. Sebentar ya. Begini, apakah saksi masih mau menjawab? Tadi itu ada pertanyaan, Saudara Saksi sudah menjawab. Ini penegasan, minta lagi, 'Saya bertanya seperti ini kok tidak dijawab?' gitu. Apakah Saudara masih mau menjawab, berkenan menjawab kembali?" tanya hakim.
"Apa yang Saudara alami pada waktu itu?" imbuh pengacara.
Kemudian, Jokowi menjawab bila menunjukkan ijazah langsung, maka tidak akan menyelesaikan masalah. Sehingga dia memilih menunjukkannya bila ada forum resmi seperti di pengadilan.
"Karena saya tidak yakin kalau saya menunjukkan di dalam forum biasa ijazah saya itu kemudian persoalan selesai, kayak saya nggak yakin. Sehingga saya ingin persoalan ini diselesaikan lewat yang ruang sidang yang terhormat ini, Yang Mulia," jawab Jokowi.
Diketahui, Roy Suryo didakwa melakukan fitnah dan pencemaran nama baik Jokowi. Jaksa mengatakan Roy Suryo menyebarkan informasi tidak benar soal ijazah Jokowi.
Akibat perbuatannya, Roy didakwa melanggar Pasal 433 ayat (1) juncto Pasal 441 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana subsider Pasal 35 juncto Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE juncto UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, Pasal 32 juncto Pasal 48 ayat (1) UU ITE juncto UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.