Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta pada 2026 mencapai 85,88; meningkat 0,83 poin atau 0,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Dengan capaian tersebut, status pembangunan manusia Jakarta tetap berada dalam kategori sangat tinggi," kata Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto di Jakarta, Kamis.
Dia menyebutkan dalam lima tahun terakhir, IPM Jakarta terus meningkat dari 82,77 pada 2022 menjadi 83,55 pada 2023; kemudian 84,15 pada 2024 dan 85,05 pada 2025.
"(Sejak 2022) hingga 2026 bertambah 3,11 poin. Peningkatan pada tahun 2026, terjadi pada seluruh indikator penyusunnya, baik indikator kesehatan, pendidikan maupun pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan," kata Kadarmanto.
Adapun IPM menggambarkan capaian pembangunan manusia yang diukur melalui tiga dimensi, yaitu umur panjang dan hidup sehat, kemudian pengetahuan serta standar hidup layak.
Pada dimensi Umur Harapan Hidup Saat Lahir, BPS DKI mencatat harapan hidup saat lahir pada 2026 mencapai 76,44 tahun atau meningkat 0,17 tahun dibandingkan tahun lalu.
Angka ini menggambarkan perkiraan rata-rata lama hidup bayi yang baru lahir. Artinya bayi yang lahir tahun ini, dia diperkirakan akan hidup sampai umur 76 tahun atau 76,4 tahun.
"Jadi peningkatan umur ini, umur harapan hidup ini sehat lahir menandakan adanya perbaikan taraf kesehatan masyarakat di Jakarta," kata Kadarmanto.
Selanjutnya, dimensi pengetahuan yang terdiri dari Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), sama-sama menunjukkan peningkatan.
HLS pada 2026 mencapai 14 tahun, naik 0,20 tahun dibandingkan tahun 2025. Artinya anak usia tujuh tahun di Jakarta diharapkan dapat menempuh pendidikan selama 14 tahun.
Sementara itu, RLS mencapai 11,76 tahun, meningkat 0,17 tahun, menunjukkan rata-rata lama pendidikan formal yang telah dijalani penduduk usia 25 tahun ke atas di DKI Jakarta.
Selanjutnya, dimensi Standar Hidup Layak yang diwakili oleh pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan.
Pada tahun 2026, indikator ini mencapai Rp21,43 juta per kapita per tahun. Nilai ini meningkat Rp755 ribu atau 3,65 persen dibandingkan tahun 2025.