Jakarta, CNBC Indonesia - PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Jumat (6/11/2026).
Rapat tersebut akan membahas beberapa agenda, termasuk rencana akuisisi 100% kepemilikan saham PT Frisian Flag Indonesia milik Friesland Campina International Holding B.V., Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd., dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa.
Aksi tersebut merupakan bagian dari rencana penyetoran modal dalam bentuk lain selain uang (inbreng) dalam rangka pelaksanaan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) IV.
Awalnya, RUPSLB perseroan direncanakan pada 27 Oktober 2026, tetapi diundur karena terdapat permintaan dari OJK mengenai tambahan informasi dan klarifikasi yang perlu dipenuhi terlebih dahulu oleh perseroan.
Selain persetujuan mengenai rencana akuisisi Frisian Flag Indonesia, RUPSLB Ultrajaya juga membahas rencana peningkatan modal ditempatkan dan modal disetor melalui PMHMETD IV.
"Termasuk persetujuan persetujuan atas perubahan Anggaran Dasar Perseroan dalam rangka PMHMETD IV serta pemberian kuasa dan wewenang kepada direksi Perseroan dengan hak substitusi untuk melaksanakan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan PMHMETD IV," demikian dikutip dari keterbukaan pada Kamis (5/11/2026).
Dalam RUSPLB, perseroan juga akan meminta persetujuan pemegang saham untuk merombak susunan direksi dan dewan komisaris, serta penggunaan sebagian dari saldo laba ditahan untuk dibagikan sebagai tambahan dividen tunai final.
Agenda terakhir rapat tersebut adalah pembahasan perubahan dan pernyataan kembali anggaran dasar perseroan. "Perseroan berencana untuk melakukan perubahan dan menyatakan kembali seluruh ketentuan anggaran dasar Perseroan sesuai dengan kebutuhan dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) di Perseroan," jelas manajemen.
Rights Issue ULTJ
Sebelumnya, ULTJ telah menyampaikan rencana akuisisi 100% saham Frisian Flag Indonesia senilai Rp14,57 triliun. Aksi korporasi tersebut dilakukan melalui skema penyetoran modal dalam bentuk selain uang atau inbreng, yang dibarengi dengan penerbitan saham baru ULTJ.
Dalam aksi tersebut, ULTJ berencana menerbitkan maksimal 7,88 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham dan harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp2.150 per saham.
Dari jumlah tersebut, ULTJ akan menerbitkan sekitar 6,78 miliar saham baru yang diperlukan untuk pelaksanaan inbreng kepada para pemegang saham FFI. Saham tersebut menjadi bagian dari pembayaran atas pengambilalihan 24.440 saham FFI atau setara dengan 100% kepemilikan perusahaan produsen susu tersebut.
Saat ini, FFI dimiliki oleh FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH) sebesar 78,09%, Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd. (BWG) sebesar 16,91%, dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI) sebesar 5%.
Melalui transaksi ini, FCIH akan menjadi pengendali baru ULTJ setelah penyelesaian rencana inbreng. Sebagai konsekuensinya, FCIH juga akan diwajibkan melakukan penawaran tender wajib atau mandatory tender offer (MTO) atas saham ULTJ yang dimiliki pemegang saham publik sesuai ketentuan pasar modal.
Berdasarkan skenario apabila hanya FCIH, BWG, dan BWI yang melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya, FCIH akan memiliki sekitar 30,81% saham ULTJ setelah PMHMETD IV. BWG akan menguasai 6,67%, sedangkan BWI sebesar 1,97%.
Di sisi lain, kepemilikan Sabana Prawirawidjaja sebagai pemegang saham pengendali ULTJ akan terdilusi dari sebelumnya 53,17% menjadi 32,19% dalam skenario tersebut.
Sementara itu, apabila seluruh pemegang saham ULTJ, termasuk pemegang saham publik, melaksanakan HMETD yang menjadi haknya, kepemilikan FCIH tercatat sekitar 28,95%, BWG 6,27%, dan BWI 1,85%.
Bagi pemegang saham ULTJ yang tidak melaksanakan HMETD, keterbukaan informasi perseroan menyebutkan potensi dilusi maksimum mencapai 43,11%. Namun, tidak dilaksanakannya HMETD oleh pemegang saham publik tidak akan menghambat pengambilalihan FFI karena transaksi dilakukan melalui inbreng saham FFI oleh FCIH, BWG, dan BWI.
[Gambas:Video CNBC]