Liputan6.com, Jakarta - Tren belanja livestreaming atau di terus menunjukkan lonjakan signifikan. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat transaksi video commerce di Indonesia melonjak 90% secara tahunan (year-on-year) hingga menyentuh angka 2,6 miliar.
Pertumbuhan masif ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pasar video commerce terbesar sekaligus bertumbuh paling pesat di Asia Tenggara.
Seiring meroketnya angka transaksi, jumlah penjual aktif dan toko online yang memanfaatkan kanal ini juga meningkat 75% hingga mencapai sekitar 800.000 pelaku usaha.
Fenomena ini memperluas akses pasar bagi UMKM lokal serta membuka lapangan kerja baru bagi para host, kreator konten, hingga tim produksi. Potensi ini turut mendorong proyeksi nilai ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan bakal menyentuh angka USD 180 miliar (sekitar Rp 3.261 triliun) pada 2030.
Namun, di tengah lonjakan pengguna dan transaksi, kesiapan infrastruktur teknologi platform menjadi tantangan kritis.
CEO Agora.io, Tony Zhao, menyoroti bahwa keterlambatan sinyal atau delay beberapa detik saat livestreaming dapat mengancam potensi penjualan yang ada.
“Banyak aplikasi masih menjadikan video live sebagai siaran satu arah. Pendekatan ini tidak cocok untuk belanja. Jika pembeli bertanya soal ukuran produk tetapi jawabannya terlambat karena lag, peluang penjualan bisa langsung hilang,” ungkap Zhao dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Karakteristik konsumen Indonesia yang terbiasa tawar-menawar secara langsung membuat interaksi serba instan menjadi keharusan.
Pengalaman Belanja Interaktif
Platform livestreaming tidak lagi sekadar menyediakan fitur siaran langsung, tetapi wajib memangkas latensi, menjaga stabilitas jaringan seluler, serta mampu menangani lonjakan trafik saat momen festival belanja seperti 11.11 atau 12.12.
Pentingnya keandalan teknologi real-time ini dibuktikan oleh platform jual beli Carousell. Setelah mengadopsi infrastruktur pemrosesan video berlatensi rendah dari Agora pada fitur live auction, Carousell mencatatkan kenaikan Gross Merchandise Value (GMV) dan jumlah penawar hingga enam kali lipat hanya dalam waktu lima bulan.
Kecepatan transmisi video yang tanpa jeda memungkinkan sesi lelang interaktif berjalan adil dan transparan bagi para pembeli.
Kunci keberhasilan video commerce ke depan dinilai sangat bergantung pada bagaimana platform mampu menciptakan pengalaman belanja interaktif tanpa hambatan.
Dengan fondasi teknologi yang responsif, audiens di Indonesia tidak hanya berperan sebagai penonton pasif, melainkan terdorong untuk aktif berinteraksi dan bertransaksi di tempat.