Mataram (ANTARA) - Sejumlah perempuan terlihat sibuk membentuk adonan temerodok di tengah hiruk pikuk Sakra Pusat, sebuah kecamatan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jemari mereka menari-nari membentuk setiap adonan temerodok menjadi bentuk yang serupa meski dikerjakan secara manual.
Di sebuah toko sederhana milik keluarganya, Eka (37 tahun), bersama tiga perempuan lainnya, masih mempertahankan cara tradisional dalam pembuatan jajanan khas Sakra tersebut.
Proses pembuatan temerodok membutuhkan ketelatenan. Setiap adonan yang telah dibentuk harus melalui proses penggorengan dua kali.
Setelah itu, temerodok didiamkan hingga dingin sebelum memasuki proses pemberian gula. Tahapan demi tahapan tetap berjalan di tengah kesibukan toko melayani pembeli yang terus datang silih berganti.
Suasana itu memperlihatkan bagaimana sebuah jajanan tradisional tetap bertahan di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak. Di saat berbagai pilihan makanan semakin beragam, temerodok masih memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat yang mengenalnya.
Bagi Eka, membuat temerodok bukan sekadar pekerjaan. Dalam setiap bentuk temerodok yang ia buat, terselip harapan agar keterampilan tersebut tidak berhenti pada generasinya.
"Iya kalau bisa," jawabnya ketika ditanya apakah ingin menurunkan kemampuan membuat temerodok kepada keluarga atau anaknya.
Harapan itu menjadi salah satu cara sederhana untuk mempertahankan keberadaan temerodok, jajanan tradisional yang telah lama dikenal di Sakra. Keterampilan membuat temerodok tidak hanya diperoleh dari resep, tapi juga melalui pengalaman, kebiasaan, dan proses belajar secara langsung.
Warisan berkelanjutan
Bagi sebagian pembuatnya, keterampilan temerodok tidak diperoleh melalui pendidikan formal atau pelatihan khusus. Pengetahuan tersebut mereka dapatkan dengan melihat orang lain bekerja, memperhatikan setiap tahapan, kemudian mencoba mempraktikkannya sendiri.
Pengalaman tersebut tidak hanya dialami Eka yang memperoleh kemampuan membuat temerodok dari keluarganya. Hal serupa juga dialami oleh Mustikawati, penjual temerodok dari Sakra Barat yang telah membuat temerodok sejak 1990-an ketika dirinya masih gadis.
Perempuan berusia 45 tahun itu mengaku dirinya mempelajari keterampilan membuat temerodok dari keluarga dan tetangga dengan memperhatikan cara mereka membuatnya, kemudian mencoba mempraktikkannya sendiri.
Puluhan tahun berlalu, membuat temerodok pun menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Proses pembuatan temerodok sudah ia hafal di luar kepala hingga tidak ada kesulitan yang berarti baginya.
Bentuk, ukuran, dan warna temerodok pun dapat dengan mudah ia sesuaikan dengan permintaan pembeli.
Pengalaman itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa keterampilan membuat jajanan tradisional tidak hanya bergantung pada resep atau bahan yang digunakan, tapi ada keterampilan dan ketelitian yang diwariskan turun temurun oleh warga Sakra.
Meski telah lama menekuni usaha yang sama, baik Eka maupun Mustikawati ternyata menghadapi tantangan yang sama. Keduanya mengaku mulai terbebani dengan perubahan harga bahan baku yang turut mempengaruhi harga jual. Selain itu, semakin banyaknya penjual temerodok menjadi tantangan tersendiri bagi Eka.
Meski begitu, keduanya tetap berharap temerodok tetap bertahan sebagai jajanan tradisional lokal dan semakin dikenal luas di tengah perkembangan zaman dengan berbagai jenis makanan modern yang terus bermunculan.
"Harapan saya pribadi mudah-mudahan temerodok ini walaupun produk lokal ke depannya tetap bertahan dan bisa lebih mendunia lagi," kata Mustikawati.
Harapan para pembuat temerodok menjadi penting karena keberlangsungan tradisi tidak cukup hanya bergantung pada orang-orang yang menguasai keterampilannya saat ini. Perlu ada generasi berikutnya yang bersedia belajar, mencoba, dan meneruskan pengetahuan tersebut.
Raih pengakuan nasional
Temerodok, jajanan tradisional yang bertahan lama dan dijaga oleh tangan-tangan terampil masyarakat Sakra, akhirnya mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Kuliner berbahan utama tepung ketan putih, telur, dan gula pasir tersebut diperkirakan berkembang sejak awal abad ke-20 seiring masuknya pengaruh kuliner Bugis-Makassar ke wilayah Sakra. Resep dan bentuk jajanan manis itu kemudian disesuaikan dan menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.
Literatur Ensiklopedi Produk Pangan Jilid 2 menyebut temerodok sudah menjadi legenda dari zaman runtuhnya Kerajaan Selaparang dan berdirinya Kerajaan Sakra dan tetap mempunyai cita rasa bangsawan.
Temerodok yang diwariskan secara turun-temurun lintas generasi tersebut kini resmi ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 6 September 2026.
Penetapan itu menjadi bentuk pengakuan nasional atas nilai sejarah dan praktik budaya tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat Sakra. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sebelumnya mengajukan temerodok sebagai WBTb untuk memperkuat upaya pelestarian salah satu identitas kuliner daerah tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat Muhamad Ihwan menilai bahwa pengakuan tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan tradisi pembuatan temerodok tetap berlangsung.
Menurut dia, tantangan terbesar bukan hanya kenaikan harga bahan baku atau persaingan antarpedagang, tetapi juga bagaimana menjaga keberlanjutan tradisi dan memastikan adanya regenerasi yang mau belajar dan meneruskan keterampilan tersebut hingga ke generasi-generasi selanjutnya.
Keberadaan temerodok tak hanya sebagai jajanan khas. Lebih dari itu, terdapat keterampilan yang tumbuh, dijaga, dan diwariskan di tengah kehidupan masyarakat. Ketika keterampilan tersebut tidak lagi diteruskan, maka keberadaan temerodok sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sakra juga menghadapi tantangan untuk bertahan.
Dinas Kebudayaan NTB berharap penetapan WBTb tidak berhenti sebagai pengakuan administratif, melainkan juga dapat memperkuat identitas budaya masyarakat Sakra, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pembuat dan pedagang temerodok.
Demi mendukung keberlanjutan tersebut, Dinas Kebudayaan NTB mendorong program pemajuan kebudayaan daerah melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), komunitas, dan juga perguruan tinggi.
Selain menjaga tradisi pembuatannya, inovasi dalam pengembangan temerodok juga perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Penguatan kualitas produk, kemasan, promosi, dan perluasan akses pasar menjadi bagian dari upaya memperkenalkan jajanan tersebut secara lebih luas, tanpa menghilangkan nilai sejarah dan identitas budaya.
Keberlanjutan temerodok tidak hanya ditentukan oleh pengakuan nasional maupun semakin luasnya jangkauan pemasaran. Ada keterampilan yang harus terus dipelajari, ada pengetahuan yang perlu diwariskan, dan ada generasi yang diharapkan bersedia melanjutkannya.
Temerodok telah melewati perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat Sakra. Berawal dari tangan seorang ibu yang mengajarkan keterampilan kepada anaknya, hingga para pembuat yang masih mempertahankan usaha tersebut sampai hari ini, sekaligus membawa harapan untuk meneruskan pembuatannya hingga ke generasi mendatang.
Perjalanan tersebut masih terus berlanjut. Kini, setelah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya, temerodok memiliki kesempatan untuk terus hidup.