Nilai tukar berada di level Rp18.089 per pada perdagangan Jumat (6/11) sore. Mata uang Garuda melemah 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS.
Sejumlah mata uang melemah, yakni yuan China sebesar 0,06 persen, peso Filipina 0,07 persen, ringgit Malaysia 0,26 persen, dolar Singapura 0,26 persen, dan yen Jepang 0,12 persen.
Sementara itu, won Korea Selatan menguat 0,29 persen dan dolar Hong Kong terapresiasi 0,02 persen.
Di sisi lain, seluruh mata uang utama negara maju kompak melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,28 persen, poundsterling Inggris melemah 0,31 persen, dolar Australia terkoreksi 0,80 persen, dolar Kanada terdepresiasi 0,32 persen, dan franc Swiss melemah 0,09 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah ditutup melemah tipis akibat tekanan sentimen penghindaran risiko (risk-off) global.
Meski demikian, data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang kuat menahan pelemahan rupiah agar tidak lebih dalam.
"Rupiah ditutup melemah tipis tertekan sentimen risk-off global. Namun, data PDB kuartal III Indonesia yang kuat menahan pelemahan lebih besar," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.