Dalam banyak hal, perbedaan pendapat antargenerasi hampir selalu ada. Soal pilihan jurusan, cara bekerja, cara belajar, hingga cara menikmati waktu luang, anak muda sering memiliki pandangan yang berbeda dari orang tua maupun gurunya. Perbedaan ini kerap menjadi masalah, padahal, kalau dilihat lebih dalam, hal ini wajar karena perbedaan masa dan terjadinya pergeseran nilai.
Anak muda cenderung memilih sudut pandang (PoV) sendiri. Sementara itu, orang tua dan guru berada di zaman yang semuanya serba stabil: pekerjaan tetap, jalur yang jelas, hasil yang pasti. Anak muda hari ini tumbuh di zaman yang serba cepat dan penuh pilihan, dari kerja jarak jauh, karier kreatif, dan bisnis digital, sampai belajar mandiri lewat internet. Ketika pengalaman hidupnya berbeda, wajar bila cara memandang cara kehidupan pun berbeda.
Bagi anak muda, PoV bukan sekadar cara pandang. Ia adalah identitas, cara mereka berbicara, memilih, berkarya, dan bersikap. Karena itu PoV sangat penting, dan sering berkembang menjadi arus gaya hidup tersendiri. Di era media sosial, sudut pandang pribadi bisa menjadi konten, tren, bahkan gerakan yang diikuti banyak orang. Pilihan hidup sederhana, kepedulian pada kesehatan mental, hingga cara baru memandang pekerjaan lahir dari pernyataan sederhana: “inilah caraku melihat dunia.”
Analisis POV Anak Muda
Masa remaja adalah fase pencarian jati diri. Tidak heran bila mereka mudah terbawa PoV yang sedang ramai di lingkungannya. Apa yang populer terasa benar, apa yang banyak diikuti terasa wajar, dan menyelisihi arus berisiko membuat seseorang dianggap ketinggalan zaman.
Media sosial memperkuat gejala ini berkali lipat. Algoritma menampilkan konten yang paling menyedot perhatian, bukan yang paling bermanfaat atau paling benar. Pandangan hidup yang mengagungkan kebebasan individu tanpa batas, kesuksesan yang diukur dari kekayaan dan popularitas, serta gaya hidup yang memisahkan nilai agama dari ruang publik menyebar cepat lewat figur influencer, tren, dan konten viral. Karena hadir setiap hari dalam kemasan yang menghibur, pesan-pesan ini mudah terserap .
Jika ditelisik lebih jauh, dalam sistem kapitalisme global, Anak muda adalah segmen pasar yang sangat menguntungkan: jumlahnya besar, aktif secara digital, dan sedang membentuk kebiasaan konsumsi yang bisa bertahan seumur hidup. Bagi industri global, memahami dan membentuk selera mereka berarti membuka aliran keuntungan jangka panjang. Dalam kerangka ini, narasi tentang kebebasan, ekspresi diri, dan “hidup sesuai keinginanmu” bukan sekadar nilai netral, melainkan juga bahasa pemasaran yang efektif. Semakin kuat keyakinan bahwa kebahagiaan ditentukan oleh apa yang dimiliki dan dipamerkan, semakin besar pula pasar yang tercipta.
Akibatnya, remaja perlahan digiring pada budaya materialistik, konsumtif, dan liberal. Materialistik, karena harga diri diukur dari barang, merek, dan tampilan. Konsumtif, karena rasa cukup terus digeser oleh iklan, diskon, dan tren yang silih berganti, sehingga membeli menjadi cara mencari kepuasan dan pengakuan. Liberal, karena nilai-nilai yang bersumber dari agama, keluarga, dan tradisi dianggap membatasi, sementara kebebasan pribadi ditempatkan sebagai ukuran tertinggi. Pada titik ini, anak muda berisiko kehilangan pandangan hidup yang benar.
POV Pemuda Muslim
Islam memberi anak muda kerangka pandang yang jelas: hidup adalah amanah, dan tujuannya meraih ridha Allah, bukan memuja materi atau kebebasan tanpa batas. Standar benar-salah dan baik-buruk tidak ditentukan oleh tren, melainkan oleh syariat. Dengan tujuan yang jelas, anak muda punya arah dan ukuran yang tidak berubah mengikuti arus.
Anak muda muslim perlu disadarkan bahwa banyak “kebutuhan” yang mereka rasakan tidak sepenuhnya lahir dari diri sendiri tapi diciptakan oleh sistem kapitalisme global . keinginan akan kosmetik, kuliner kekinian, traveling, healing, dan outfit terbaru dibentuk dan diperkuat oleh industri yang membidik mereka sebagai pasar. Kesadaran ini penting agar mereka bisa membedakan mana kebutuhan yang sebenarnya dan mana yang hanya ikut-ikutan tren.
Viral tidak sama dengan benar. Islam mengajarkan tabayyun, yaitu memeriksa sebelum menerima dan menyebarkan. Anak muda muslim perlu terbiasa menyaring konten dengan pertanyaan sederhana: dari siapa ini berasal, apa tujuannya, dan apakah sesuai dengan nilai Islam? Dengan begitu, mereka menjadi pengguna media sosial yang sadar, bukan sekadar pengikut arus.
Namun, Penyadaran saja tidak cukup; perlu pembinaan yang terarah. Dalam sistem Islam, pembinaan dapat dilakukan melalui keluarga, pendidikan, dan lingkungan sehingga terbentuk generasi dengan pola pikir dan pola sikap Islami yang kuat, sekaligus menyiapkan mereka berkontribusi membangun peradaban yang mulia.
Anak muda tidak dilarang punya PoV sendiri selama PoV itu dibangun di atas landasan yang benar, yaitu syariat Islam sebagai standar perbuatan, bukan sekadar mengikuti arus, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berkepribadian kuat dan bermanfaat bagi umat
.Wallahu a’lam bisshawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.