Apa jadinya jika asisten AI tidak lagi harus menunggu perintah untuk membantu penggunanya? Inilah yang ditawarkan Dots, asisten kecerdasan buatan (AI) dari OpenAI yang bisa bekerja secara proaktif, mulai dari mengurus email, mengatur perjalanan, hingga mengingatkan hal penting yang mungkin terlewat.
Berbeda dari ChatGPT yang umumnya menunggu pertanyaan, Dots dirancang untuk memahami kebutuhan pengguna dan mengambil inisiatif berdasarkan konteks serta kebiasaan mereka.
Kemampuan tersebut diperlihatkan Gabriel Chua, Product Engineer OpenAI, dalam sesi briefing bersama media Asia Pasifik, Kamis (5/11/2026). Ia menunjukkan bagaimana Dots dapat bekerja layaknya asisten pribadi digital yang membantu mengelola berbagai pekerjaan sehari-hari.
"Sebelumnya, ketika menggunakan mode; AI seperti ChatGPT, kita mengajukan pertanyaan. Kemudian dengan ChatGPT Work dan Codex, kita mulai mendelegasikan tugas. Nah, pada model ketiga ini, AI menjadi lebih aktif dan proaktif," jelas Gabriel.
"Cara terbaik memahami Dots adalah bahwa AI ini selalu aktif. Ini memang sedikit istilah teknis, tetapi bayangkan saja Dots selalu siap membantu," lanjutnya.
Asisten AI ini dapat terhubung dengan berbagai layanan seperti Gmail, kalender, dan aplikasi kerja lainnya untuk memahami konteks aktivitas pengguna.
Menariknya, Dots juga bisa dipersonalisasi sesuai keinginan pengguna. OpenAI menyediakan pilihan nama, warna, hingga karakter visual yang menggemaskan, mulai dari robot, burung hantu berkacamata, hingga karakter berbentuk hati.
Pengguna dapat memilih tampilan yang disukai sehingga asisten AI terasa lebih personal. Dalam demonstrasi, Gabriel juga memperlihatkan Dots miliknya yang diberi nama Gab dengan identitas warna ungu.
Personalisasi Dots Foto: Adi FR/detikINET |
Bisa Pesan Tiket Kereta hingga Urus Refund
Gabriel membagikan pengalaman ketika berlibur bersama istrinya ke Nikko, Jepang. Ia meminta Dots mencari tiket kereta dari Tokyo dengan dua kursi bersebelahan serta jadwal yang sesuai dengan perjalanan bus menuju lokasi wisata.
Dots kemudian menelusuri berbagai situs pemesanan, jadwal kereta, hingga dokumen berbahasa Jepang. AI ini bahkan membuka situs pemesanan melalui komputer berbasis cloud miliknya sendiri dan membantu menyiapkan transaksi.
Gabriel tinggal mengambil alih kendali komputer untuk memasukkan kartu kredit dan melakukan pembayaran.
Ketika pembayaran tiket pulang menampilkan error 502, Dots membantu memeriksa riwayat pemesanan dan email konfirmasi. Hasilnya, tiket ternyata sudah terbit dan Dots menyiapkan dokumen PDF untuk digunakan saat perjalanan.
Dots juga membantu Gabriel mencari kereta pulang lebih awal serta membatalkan tiket sebelumnya sesuai kebijakan operator.
Kemampuan serupa dimanfaatkan untuk mengurus klaim asuransi. Dots menemukan potongan klaim yang keliru, membantu menyusun email keberatan, dan memantau tindak lanjutnya. Perusahaan asuransi akhirnya mengakui kesalahan dan mengembalikan dana.
Urus 35 Email Sekaligus
Dalam demonstrasi langsung, Gabriel memperlihatkan kemampuan Dots mengelola 35 email sebuah bisnis kombucha bernama Straits Culture. Ia meminta Dots membuat draf balasan berdasarkan dokumen Frequently Asked Questions (FAQ) dan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan.
Hasilnya, Dots mengidentifikasi 20 email yang dapat ditangani berdasarkan kebijakan, 10 email yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, dan lima email tidak relevan.
Dots, Asisten AI buatan OpenAI Foto: Adi FR/detikINET |
Menariknya, Dots tidak membuat jawaban untuk email yang informasinya belum tersedia dalam FAQ dan SOP. Sebaliknya, AI tersebut menandainya agar diperiksa manusia.
Gabriel juga meminta Dots mengingatkannya untuk melengkapi informasi yang belum tersedia dalam dokumen perusahaan.
Menurutnya, Dots dapat dimanfaatkan untuk mencari email penting yang belum dibalas selama 90 hari terakhir.
Punya Komputer Sendiri, Bisa Akses Laptop
Gabriel menjelaskan Dots memiliki tiga cara untuk bekerja, yakni melalui plugin yang terhubung ke aplikasi, komputer berbasis cloud, serta akses ke komputer pengguna apabila izin diberikan.
Dalam demonstrasi lainnya, Gabriel meminta Dots mengakses 145 foto di laptop melalui instruksi dari ponsel. AI tersebut kemudian mulai mengelompokkan foto dan membuat situs galeri untuk laporan internal.
Dots juga dapat membuat percakapan ChatGPT baru untuk mengerjakan tugas. Pengguna tetap bisa memantau dan memberikan instruksi tambahan.
Meski dapat bekerja proaktif, Gabriel menegaskan pengguna tetap memegang kendali atas tindakan penting, termasuk pembayaran.
"Saya sendiri yang memasukkan detail kartu kredit, melakukan pembayaran, dan memberikan otorisasi," tegasnya.
Dots bisa teroasang di komputer berbasis cloud serta akses ke komputer pengguna apabila izin diberikan.Foto: Adi FR/detikINET |
Pengguna juga dapat mengatur agar Dots meminta persetujuan sebelum mengirim email atau mengakses file tertentu.
Gabriel mengungkap bahwa pengguna ChatGPT Plus dan Pro dapat menghubungkan beberapa akun Gmail ke Dots. Ia sendiri menggunakan lima akun Gmail, meski tidak menyebutkan batas maksimalnya.
Mengenai privasi, pengguna paket personal dapat memilih agar datanya tidak digunakan untuk peningkatan model. Sementara itu, data pelanggan Business dan Enterprise tidak digunakan untuk melatih model secara default.
Gabriel mengatakan Dots masih dalam tahap early preview, termasuk pengembangan sistem memori yang membuat AI semakin memahami preferensi dan kebiasaan pengguna.
Dengan kemampuan tersebut, Dots diharapkan dapat mengurangi pekerjaan kecil yang menyita waktu, sehingga pengguna bisa lebih fokus pada aktivitas kreatif dan pekerjaan yang lebih penting.


