JAKARTA -- Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 600 miliar dolar AS pada 2030. Besarnya populasi, dominasi generasi muda, serta meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital menjadi peluang bagi industri pemasaran, media, dan teknologi untuk memperluas pasar.
Country Head & Board of Director Indonesia Marketing + Media Alliance (MMA) Global Indonesia, Shanti Tolani, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, Indonesia memiliki pasar yang luas dan didominasi masyarakat usia muda.
“Potensinya luar biasa. Indonesia memiliki sekitar 280 juta penduduk dengan populasi yang sangat muda. Mereka aktif dalam berbagai aktivitas digital, mulai dari transaksi, hiburan, makanan dan minuman, hingga gaya hidup,” kata Shanti dalam acara MMA Impact 2026 di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, besarnya potensi tersebut perlu diikuti kolaborasi antarpelaku industri untuk menghadapi berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi digital. Perusahaan teknologi, penerbit media, agensi pemasaran, dan berbagai pemangku kepentingan perlu duduk bersama untuk mencari solusi bagi perkembangan industri di Indonesia.
Shanti mengatakan situasi global dan domestik saat ini diwarnai berbagai tantangan, termasuk persoalan ekonomi dan perubahan lanskap industri. Dalam kondisi tersebut, pelaku industri membutuhkan ruang untuk bertukar pandangan, membahas tantangan, serta merumuskan langkah bersama.
“Kita bisa melakukan kolaborasi, datang bersama, membicarakan apa saja tantangannya, solusi yang memungkinkan, dan apa yang perlu kita lakukan bersama,” ujarnya.
Ia menilai pertemuan antara perusahaan teknologi dan penerbit media menjadi penting untuk membangun pemahaman bersama mengenai kebutuhan industri. Pertukaran pengalaman dan pengetahuan juga dapat membantu perusahaan menentukan strategi menghadapi perubahan pasar.
Shanti menambahkan, potensi ekonomi digital Indonesia tidak hanya berkaitan dengan perkembangan media digital. Industri pemasaran perlu melihat media secara menyeluruh dengan menggabungkan kekuatan media konvensional dan digital.
Menurutnya, strategi pemasaran tidak bisa hanya bertumpu pada satu jenis platform. Perusahaan perlu mengintegrasikan berbagai saluran komunikasi agar dapat menjangkau konsumen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Ini bukan hanya tentang media digital. Kita harus menggabungkan media tradisional dan digital,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh pelaku industri membangun rasa memiliki, persatuan, dan tanggung jawab bersama dalam mengembangkan ekosistem pemasaran dan media nasional.
Shanti berharap kolaborasi tersebut dapat membantu industri menghadapi tantangan sekaligus mengoptimalkan peluang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Dengan potensi pasar yang besar, sinergi antara perusahaan teknologi, media, dan pelaku pemasaran dinilai menjadi salah satu modal untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.