Politik

Desa wisata diperkenalkan jadi daya tarik pariwisata di AKRT 2026

Desa wisata diperkenalkan jadi daya tarik pariwisata di AKRT 2026

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata memperkenalkan program desa wisata sebagai salah satu daya tarik pariwisata lokal yang berkualitas dan berkelanjutan dalam ASEAN-Korea Rountable In Tourism (AKRT) 2026 yang diadakan di Jakarta.

"Kami punya desa wisata dan kebetulan beberapa dari desa wisata Indonesia itu sudah masuk kategori 'Best Tourism Village'-nya UN Tourism. Jadi ini adalah salah satu (ilmu) yang bisa kita berikan kepada mereka (Korea Selatan),” kata Deputi Bidang SDM dan Kelembagaan Kemenpar Martini M. Paham di Jakarta, Kamis.

Beberapa desa wisata yang menyabet penghargaan itu yakni Desa Wisata Nglanggeran (DI Yogyakarta), Desa Wisata Penglipuran (Bali), Desa Wisata Jatiluwih (Bali) dan Desa Wisata Wukirsari (DI Yogyakarta).

Desa wisata juga diperkenalkan sebagai praktik baik untuk mengembangkan ekosistem pariwisata lokal yang berbasis komunitas. Tahun lalu ketika acara ini digelar di Da Nang, Vietnam, pemerintah sudah membahas mengenai desa wisata, namun, baru sebatas konteks pariwisata berbasis komunitas.

Selain desa wisata, Martini mengaku Pemerintah Korea Selatan juga ingin mempelajari mengenai industri wisata ramah muslim yang kian berkembang dan diminati oleh wisatawan.

Dia menilai pemerintah Korea Selatan ingin mengetahui lebih lanjut tata cara menyiapkan destinasi wisata yang ramah muslim baik dari sisi fasilitas maupun penyediaan layanan yang akan dihadirkan.

"Korea juga ingin melihat karena pasar (muslim) Indonesia besar sekali, selain itu (di ASEAN) juga ada Brunei dan Malaysia. Jadi (Korsel) ingin tahu bagaimana cara menyiapkan diri untuk bisa menerima wisatawan muslim," kata Marthini menambahkan.

ASEAN-Korea Rountable In Tourism (AKRT) 2026 digelar di Indonesia karena inisiatif Korea Selatan untuk membuka forum diskusi dengan negara-negara ASEAN dalam mengembangkan serta menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk diterapkan di sektor pariwisata masing-masing negara.

Melalui pertemuan itu, negara-negara di kawasan ASEAN dan Korea Selatan menargetkan peningkatan pertukaran wisatawan dua arah dari 13 juta menjadi lebih dari 20 juta orang melalui penguatan fasilitasi perjalanan dan peningkatan kualitas layanan pariwisata regional.

Jumlah kunjungan wisatawan dari kawasan ASEAN ke Korea Selatan pada 2025 mencapai sekitar 2,7 juta. Sementara untuk wisatawan asal Negeri Gingseng ke ASEAN menyentuh lebih dari 10 juta kunjungan.