JAKARTA —Memilih bahan bakar minyak (BBM) sering kali menjadi keputusan sederhana saat mengisi kendaraan. Sebagian pengendara mempertimbangkan harga, sebagian lainnya memilih berdasarkan kebiasaan. Padahal, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan: apakah bahan bakar yang digunakan sudah sesuai dengan kebutuhan mesin kendaraan?
Setiap kendaraan memiliki karakteristik mesin dan kebutuhan bahan bakar yang berbeda. Karena itu, memilih BBM idealnya tidak hanya berdasarkan harga atau anggapan bahwa bahan bakar yang lebih mahal pasti lebih baik. Mengenali spesifikasi kendaraan justru menjadi langkah awal agar mesin dapat bekerja sesuai peruntukannya.
Di sisi lain masyarakat pada umumnya akan mempertimbangkan penggunaan BBM ketika menghadapi perubahan harga energi dan tekanan biaya hidup. Perbedaan harga antara BBM subdisi dan non subsidi dapat memengaruhi keputusan konsumen.
Pengamat energi Ali Ahmudi Achyak menilai pemilihan BBM sebaiknya mempertimbangkan dua hal utama, yakni kebutuhan teknis kendaraan dan kemampuan ekonomi pemiliknya. Menurutnya, masyarakat perlu memahami rekomendasi bahan bakar yang ditetapkan produsen kendaraan sebelum menentukan jenis BBM yang digunakan.
"Edukasi kepada masyarakat harus dibangun di atas dua prinsip sekaligus, yaitu kesesuaian BBM dengan spesifikasi kendaraan dan kemampuan ekonomi konsumen," kata Ali kepada Republika.
Ia menjelaskan setiap kendaraan memiliki karakteristik mesin yang berbeda. Produsen kendaraan umumnya memberikan rekomendasi bahan bakar berdasarkan desain mesin, termasuk angka oktan atau Research Octane Number (RON) minimum yang dibutuhkan.
Angka oktan menunjukkan kemampuan bahan bakar menahan pembakaran tidak normal atau knocking. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar secara tidak terkendali di dalam ruang bakar.
Penggunaan BBM dengan angka oktan yang sesuai membantu mesin bekerja sebagaimana dirancang oleh pabrikan. Sebaliknya, penggunaan bahan bakar dengan RON di bawah rekomendasi dapat memengaruhi performa dan meningkatkan risiko pembakaran tidak normal pada kondisi tertentu.
Ali mengingatkan angka oktan yang lebih tinggi tidak otomatis membuat seluruh kendaraan lebih hemat bahan bakar atau menghasilkan tenaga lebih besar. Manfaatnya bergantung pada karakteristik mesin dan teknologi yang digunakan.
"BBM dengan RON lebih tinggi tidak otomatis membuat semua kendaraan lebih hemat atau lebih bertenaga. Manfaatnya bergantung pada desain dan kebutuhan mesin," ujar Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) ini.
Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak hanya menganggap BBM yang lebih mahal selalu memberikan hasil lebih baik. Sebaliknya, memilih bahan bakar semata-mata berdasarkan harga paling murah tanpa memperhatikan kebutuhan mesin juga bukan keputusan yang tepat.
Konsumen dapat memeriksa buku manual kendaraan, informasi pada tutup tangki bahan bakar, atau rekomendasi resmi pabrikan untuk mengetahui jenis BBM yang sesuai.
Mengenali Perbedaan Bahan Bakar Berdasarkan RON
Di Indonesia, masyarakat memiliki sejumlah pilihan BBM untuk kendaraan bermesin bensin. Bahan Bakar dengan RON 90, dikeluarkan Pertamina dengan nama Pertalite dan Vivo Energy dengan nama produk Revvo 90. Jenis produk RON 92 lebih beragam, Pertamax, Sehll Super, Revvo 92, BP 92. Sementara pada produk BBM dengan RON 95 -98 juga terdapat beragam pilihan,seperti Pertamax Turbo, Sehll V Power, Revvo 95, BP Ultimate.
Perbedaan angka oktan menjadi salah satu karakteristik utama ketiga ‘kasta’ produk tersebut. Masing-masing memiliki spesifikasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mesin kendaraan.
Pertalite, merupakan salah satu jenis BBM yang harganya mendapat dukungan pemerintah melalui mekanisme kompensasi. Produk ini menjadi pilihan bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan dengan kebutuhan bahan bakar sesuai spesifikasinya dan memenuhi ketentuan pembelian yang berlaku.
Produk BBM RON 92 termasuk produk yang tidak disubsidi dan menjadi pilihan bagi kendaraan yang membutuhkan angka oktan sesuai karakteristik produk tersebut. Penggunaan Pertamax misalnya, relevan bagi pemilik kendaraan yang pabrikannya merekomendasikan bahan bakar dengan RON minimum 92.
Adapun produk BBM dengan RON kisaran 95 - 98 ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan yang memerlukan bahan bakar dengan angka oktan lebih tinggi. Produk ini dapat menjadi pilihan bagi mesin dengan karakteristik tertentu, termasuk kendaraan berperforma tinggi yang membutuhkan ketahanan lebih besar terhadap knocking.
Dalam praktiknya, kendaraan yang dirancang untuk menggunakan RON 90 belum tentu memperoleh peningkatan efisiensi yang berarti ketika menggunakan RON 98. Sebaliknya, mesin yang membutuhkan RON lebih tinggi sebaiknya tidak menggunakan bahan bakar di bawah rekomendasi pabrikan. Karena itu, edukasi mengenai BBM berkualitas perlu diarahkan pada pemahaman spesifikasi produk, bukan sekadar mendorong konsumen membeli bahan bakar dengan harga lebih tinggi.
Pilihan BBM dan Kemampuan Ekonomi Masyarakat
Pemilihan bahan bakar tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi rumah tangga. Bagi sebagian masyarakat, pengeluaran untuk BBM merupakan kebutuhan rutin yang memengaruhi biaya transportasi, aktivitas pekerjaan, dan kegiatan usaha.
Perbedaan harga antara BBM nonsubsidi dan BBM yang mendapat dukungan pemerintah dapat menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pilihan. Ali menilai kondisi tersebut perlu dipahami secara proporsional. Konsumen yang memilih Pertalite karena pertimbangan ekonomi tidak serta-merta dapat dianggap mengabaikan kualitas bahan bakar atau melakukan penyalahgunaan.
"Tidak semua orang yang beralih ke Pertalite berarti menyalahgunakan subsidi. Ada masyarakat yang memang perlu menghemat pengeluaran, dan ada pula kendaraan yang sesuai menggunakan BBM tersebut," ujar dia.
Menurutnya, edukasi penggunaan BBM harus mempertimbangkan kenyataan ekonomi masyarakat. Pemerintah dan badan usaha perlu memberikan informasi yang memadai agar konsumen dapat memilih bahan bakar berdasarkan kebutuhan kendaraan dan kemampuan finansial.
Pendekatan tersebut menjadi penting di tengah perubahan harga energi. Ketika harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian, sebagian masyarakat mungkin mempertimbangkan penggunaan produk dengan harga lebih terjangkau. Namun, keputusan itu tetap perlu memperhatikan rekomendasi teknis kendaraan dan ketentuan penyaluran BBM yang berlaku.
Bagi kendaraan yang membutuhkan RON 92, penggunaan Pertamax dapat menjadi pilihan untuk memenuhi spesifikasi mesin. Bagi kendaraan yang memerlukan RON lebih tinggi, Pertamax Turbo dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi pabrikan. Di sisi lain, masyarakat dengan kendaraan yang sesuai menggunakan RON 90 tetap perlu memperoleh informasi mengenai ketentuan penggunaan Pertalite.
Dengan demikian, edukasi BBM berkualitas tidak diarahkan untuk mewajibkan seluruh konsumen beralih ke BBM nonsubsidi. Tujuannya adalah membantu masyarakat mengambil keputusan secara tepat berdasarkan kebutuhan teknis dan kondisi ekonomi.
Memahami Fungsi BBM Bersubsidi
Selain memahami spesifikasi bahan bakar, masyarakat perlu mengetahui fungsi kebijakan subsidi dan kompensasi energi. Kebijakan tersebut merupakan instrumen pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga dan melindungi daya beli masyarakat. Dalam pelaksanaannya, penyaluran BBM yang mendapat dukungan fiskal perlu mengikuti ketentuan agar manfaat kebijakan dapat dirasakan secara optimal.
Praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menilai kebijakan menjaga harga BBM tertentu masih diperlukan untuk melindungi masyarakat dari tekanan biaya hidup.
"BBM subsidi tidak perlu naik karena daya beli rakyat rendah," kata Hadi kepada Republika.
Namun, Hadi mengingatkan perbedaan harga yang terlalu lebar antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi dapat memengaruhi pola konsumsi. Kondisi tersebut juga berpotensi membuka peluang penyimpangan distribusi apabila pengawasan tidak berjalan optimal.
"Jika disparitas harga terlalu tinggi akan rawan penyelewengan oleh oknum dan keinginan migrasi dari nonsubsidi ke subsidi," ujarnya.
Meski demikian, perubahan pilihan BBM yang masih sesuai ketentuan tidak dapat disamakan dengan penyalahgunaan subsidi. Dalam konteks tersebut, edukasi masyarakat perlu menjelaskan perbedaan antara penggunaan BBM sesuai hak dan peruntukannya dengan praktik penimbunan atau penjualan kembali secara ilegal.
Ali menjelaskan masyarakat perlu membedakan kondisi cadangan nasional dengan ketersediaan bahan bakar di masing-masing SPBU. "Stok BBM nasional yang aman tidak otomatis menjamin setiap SPBU selalu memiliki BBM yang cukup pada setiap waktu," kata akademisi Universitas Indonesia ini.
Menurutnya, pemerintah dan badan usaha perlu memberikan penjelasan yang terbuka mengenai kondisi pasokan, jadwal pengiriman, dan langkah penanganan ketika terjadi gangguan. Transparansi informasi dapat membantu masyarakat memahami situasi secara lebih tepat dan mengurangi kekhawatiran yang tidak perlu. Di sisi lain, masyarakat diharapkan membeli BBM sesuai kebutuhan serta menghindari penimbunan maupun pembelian untuk dijual kembali secara ilegal.
Pertamina Perkuat Distribusi dan Pelayanan
Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan BBM perlu berjalan seiring dengan kesiapan pasokan dan pelayanan. Konsumen membutuhkan akses terhadap produk bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi kendaraannya.
Pengalaman gangguan distribusi di Bali memperlihatkan pentingnya kesiapan sistem logistik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam keterangan resmi pada 15 Oktober 2026, PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan sejumlah langkah percepatan pemulihan pasokan BBM di Bali. Perusahaan menambah pengiriman bahan bakar, mengoptimalkan armada mobil tangki, serta memperpanjang waktu operasional terminal dan SPBU.
Pertamina Patra Niaga merencanakan tambahan pasokan sekitar 57,9 juta liter BBM melalui kedatangan kapal secara bertahap pada 14–17 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 19 juta liter telah tiba di Fuel Terminal Sanggaran dan Integrated Terminal Manggis saat keterangan diterbitkan. Tambahan pasokan terdiri dari Pertalite dan Pertamax untuk memperkuat ketersediaan produk di SPBU.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan perusahaan terus memperkuat distribusi agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. "Kami terus mengoptimalkan pasokan dan distribusi BBM di Bali melalui penambahan suplai, kesiapan armada mobil tangki, serta pengoperasian terminal dan SPBU selama 24 jam," ujar Kitty.
Perusahaan juga menyiagakan 108 mobil tangki dengan dukungan 465 awak mobil tangki. Sebanyak 66 SPBU di Denpasar dan Badung dioperasikan selama 24 jam untuk memperluas akses pelayanan. Langkah tersebut menunjukkan pentingnya memastikan berbagai jenis BBM tersedia sesuai kebutuhan konsumen. Penguatan distribusi tidak hanya berkaitan dengan volume pasokan, tetapi juga ketepatan penyaluran dan kemudahan masyarakat memperoleh bahan bakar.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan pelayanan setelah gangguan distribusi yang terjadi di Bali. Menurut Simon, energi merupakan bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta kegiatan sehari-hari.
Pertamina juga melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi agar pelayanan dapat berjalan lebih baik dan gangguan serupa dapat diantisipasi. Upaya penguatan pasokan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung edukasi konsumen. Masyarakat yang telah memahami kebutuhan bahan bakar kendaraannya tetap memerlukan kepastian ketersediaan produk di SPBU.
Membangun Kesadaran Konsumen
Kesadaran menggunakan BBM berkualitas membutuhkan pendekatan edukasi yang berkelanjutan. Informasi mengenai angka oktan, spesifikasi mesin, dan karakteristik produk perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Edukasi tersebut tidak cukup hanya menjelaskan perbedaan RON antara Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Konsumen juga perlu memahami alasan suatu kendaraan membutuhkan jenis bahan bakar tertentu serta dampak penggunaan BBM yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan.
Informasi dapat diberikan melalui berbagai saluran, termasuk SPBU, layanan konsumen, materi edukasi digital, serta kerja sama dengan produsen dan bengkel kendaraan. Pemilik kendaraan dapat memulai dengan memeriksa buku manual atau rekomendasi resmi pabrikan. Informasi tersebut menjadi rujukan utama dalam menentukan angka oktan minimum yang dibutuhkan mesin.
Bagi kendaraan yang membutuhkan RON 92, Pertamax dapat menjadi pilihan sesuai spesifikasinya. Pertamax Turbo dengan RON 98 dapat dipertimbangkan untuk kendaraan yang membutuhkan angka oktan lebih tinggi.
Namun, penggunaan BBM dengan RON tinggi tidak perlu dipandang sebagai kewajiban bagi seluruh kendaraan. Kesesuaian spesifikasi tetap menjadi pertimbangan utama.
Ali menilai pendekatan edukasi harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan teknis kendaraan dan kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu didorong untuk memilih bahan bakar secara rasional, bukan semata-mata berdasarkan anggapan harga yang lebih mahal selalu lebih baik atau harga paling murah selalu menjadi pilihan paling menguntungkan.
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab memastikan kebijakan energi dapat diakses secara adil. Ketersediaan BBM, keterjangkauan harga, dan kejelasan ketentuan penyaluran merupakan bagian penting dari upaya membangun kesadaran konsumen. Dalam hal ini, penggunaan BBM berkualitas tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan subsidi dan keandalan distribusi. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar masyarakat memperoleh manfaat sesuai kebutuhan.
"Pemerintah perlu mendorong masyarakat menggunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan dan kemampuan ekonominya, sekaligus memahami bahwa subsidi merupakan instrumen kebijakan publik yang perlu dikelola dengan baik," kata Ali.
Kesadaran masyarakat juga dapat diperkuat melalui kebiasaan membeli BBM sesuai kebutuhan, menghindari penimbunan, dan memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan. Langkah sederhana tersebut memiliki arti penting dalam menjaga kelancaran pelayanan, terutama ketika sistem distribusi menghadapi gangguan sementara.
Pada akhirnya, mendorong penggunaan BBM berkualitas bukan berarti mengharuskan seluruh masyarakat beralih ke produk nonsubsidi. Tujuan utamanya adalah membangun pemahaman agar konsumen dapat memilih bahan bakar sesuai spesifikasi mesin, kebutuhan kendaraan, dan kemampuan ekonomi.
Pertamax dan Pertamax Turbo menjadi bagian dari pilihan tersebut bagi kendaraan yang membutuhkan karakteristik bahan bakar sesuai spesifikasi masing-masing produk. Pertalite tetap memiliki peran dalam mendukung keterjangkauan energi sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah, Pertamina, produsen kendaraan, pengelola SPBU, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun ekosistem konsumsi energi yang lebih bijak. Edukasi yang tepat perlu didukung pasokan yang andal, informasi yang jelas, serta kebijakan yang mempertimbangkan kepentingan seluruh kelompok masyarakat.
Dengan pemahaman yang semakin baik, keputusan memilih BBM tidak hanya didasarkan pada harga, tetapi juga pada kesesuaian kualitas dengan kebutuhan kendaraan. Kesadaran inilah yang menjadi dasar penggunaan energi secara lebih bertanggung jawab, tanpa mengabaikan hak masyarakat untuk memperoleh bahan bakar yang terjangkau dan mudah diakses.