JAKARTA -- Rencana penawaran umum perdana saham (IPO) Anthropic, pengembang kecerdasan buatan Claude AI, memperlihatkan besarnya potensi bisnis teknologi AI di pasar global. Namun, peluang investasi di sektor tersebut juga diikuti kebutuhan modal besar dan risiko operasional yang perlu diperhitungkan investor.
Berdasarkan laporan Reuters pada 2 November 2026, Anthropic mencatatkan pendapatan sebesar 16,96 miliar dolar AS pada kuartal III 2026. Pendapatan tersebut meningkat 47 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI oleh perusahaan dan berbagai sektor industri.
Pertumbuhan bisnis Anthropic sekaligus mencerminkan besarnya peluang komersial industri kecerdasan buatan. Namun, prospek tersebut tidak terlepas dari kebutuhan investasi infrastruktur komputasi dan biaya operasional yang tinggi.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn menilai perkembangan perusahaan AI seperti Anthropic menunjukkan semakin besarnya pengaruh teknologi terhadap arah investasi dan pertumbuhan ekonomi global. Permintaan terhadap solusi AI dinilai membuka peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan teknologi.
"AI telah berkembang dari sekadar inovasi teknologi menjadi salah satu penggerak transformasi bisnis dan ekonomi. Perkembangan perusahaan seperti Anthropic memperlihatkan bagaimana permintaan terhadap teknologi AI dapat menciptakan peluang pertumbuhan baru sekaligus menarik perhatian investor terhadap sektor ini," ujar Ryan dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).
Di balik pertumbuhan pendapatan tersebut, Anthropic menghadapi kebutuhan pendanaan besar untuk membangun infrastruktur komputasi. Dalam laporan yang sama, perusahaan mengungkapkan komitmen pengeluaran infrastruktur komputasi sekitar 895,4 miliar dolar AS bersama mitra, termasuk Amazon dan Google. Hampir setengah dari komitmen tersebut diperkirakan direalisasikan sebelum akhir 2030.
Anthropic juga mencatat kerugian operasional sebesar 567 juta dolar AS pada kuartal III 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan industri AI masih membutuhkan belanja modal besar, sementara perusahaan juga menghadapi tantangan untuk mencapai profitabilitas.
Ryan mengingatkan investor agar tidak hanya mengikuti tren teknologi ketika mempertimbangkan investasi di sektor AI. Fundamental perusahaan, kemampuan menghasilkan pendapatan berkelanjutan, kebutuhan belanja modal, dan persaingan bisnis perlu menjadi pertimbangan.
"Potensi industri AI memang sangat besar, tetapi investor tetap perlu melihat bagaimana perusahaan mengubah inovasi menjadi pendapatan yang berkelanjutan. Faktor seperti profitabilitas, kebutuhan belanja modal, persaingan, dan kemampuan mengembangkan model bisnis menjadi aspek penting dalam menilai prospek perusahaan, bukan hanya mengikuti tren atau ekspektasi valuasi," jelas Ryan.
Di tengah meningkatnya minat terhadap perusahaan teknologi global, tokenisasi saham juga berkembang sebagai alternatif akses digital terhadap aset yang berkaitan dengan pasar modal internasional. Melalui mekanisme ini, aset atau instrumen keuangan tertentu direpresentasikan dalam bentuk token digital dengan struktur dan hak yang bergantung pada penerbit serta ketentuan produk.
Di Indonesia, pemanfaatan teknologi tersebut mulai dieksplorasi melalui industri keuangan. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai Rapat Dewan Komisioner Bulanan September 2026, tujuh peserta Regulatory Sandbox telah menyelesaikan pengujian dengan hasil memenuhi ketentuan hingga September 2026.
Model bisnis yang diuji mencakup tokenisasi emas, surat berharga melalui skema Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), manfaat kepemilikan properti, penerbitan stablecoin rupiah, kustodian aset keuangan digital nonperdagangan, serta manajer dana kripto. Perkembangan tersebut menunjukkan semakin luasnya eksplorasi teknologi blockchain dalam layanan keuangan nasional.
Sebagai salah satu alternatif akses digital terhadap aset global, Bittime memiliki produk Tokenized US Stocks. Produk tersebut memberikan eksposur digital kepada pengguna terhadap sejumlah saham pilihan perusahaan Amerika Serikat melalui aset berbasis token.
Ryan mengatakan, tokenisasi dapat memperluas alternatif bagi masyarakat untuk mengakses aset global melalui ekosistem keuangan digital. Namun, investor perlu memahami bahwa mekanisme dan hak yang melekat pada saham berbasis token dapat berbeda dari kepemilikan saham konvensional.
"Melalui Tokenized US Stocks, Bittime ingin menghadirkan alternatif akses digital terhadap saham-saham pilihan perusahaan AS bagi masyarakat Indonesia. Kami melihat perkembangan sektor teknologi, termasuk AI dan infrastruktur pendukungnya, sebagai salah satu tren global yang menarik untuk dicermati."
Bittime mengimbau masyarakat memahami fundamental aset, perkembangan pasar global, serta karakteristik setiap instrumen keuangan digital sebelum mengambil keputusan investasi. Perusahaan menyatakan akan terus mengembangkan produk dan ekosistem aset digital untuk memperluas akses masyarakat terhadap peluang investasi global.